anak

Kenapa Anak Senang Diajak Bertepuk Tangan? Ini Jawabannya

Selasa, 28 Mei 2024 | 08:57 WIB
Anak Bertepuk Tangan (Ana Curcan/Unsplash)

SMARTPARENT.ID Saat berada di dalam kandungan, kira-kira usia 10 minggu, janin sudah bisa mendengar musik. Musik yang didengar adalah detak jantung ibunya, desiran air ketuban, dan bunyi kerucuk dari dalam perut ibu. Apa yang di dengarnya saat itu mirip dengan bunyi alat musik perkusi.

Karena jenis musik ini sudah didengarnya sejak dalam kandungan, anak bisa lebih mudah menyesuaikan diri mendengarnya setelah lahir. Anak pun lebih mudah memahaminya dan memainkannya dibandingkan alat musik lain. Di samping itu bunyinya sangat sederhana dan bisa dibunyikan tanpa harus belajar lebih dalam.

Kenyataan inilah yang setidaknya akan mengakrabkan anak dengan bunyi-bunyian alat musik perkusi. Ketika kita bertepuk tangan, memukul gendang, atau membunyikan benda lainnya, seringkali anak begitu antusias mendengar dan memperhatikannya.

Baca Juga: Boleh Kok Anak Makan Mi Instan, Tapi Jangan Sampai Keseringan

Musik Perkusi Dapat Mendukung Pertumbuhan Lebih Maksimal

Memperdengarkan musik perkusi pada anak bisa memicu pertumbuhan dan perkembangannya lebih maksimal. Ketika anak mendengarnya dapat meningkatkan potensi kecerdasan, kreativitas, fisik anak lebih optimal. Tetapi Moms harus memberikan stimulasi lain agar apa yang didapat dari rangsangan musik perkusi bisa dikembangkan lagi. Misalnya, merangsang kreativitas anak dengan mainan kreatif, asupan gizi dan vitamin seimbang, sosialisasi, melatih kosa kata, dan lainnya.

Pada intinya musik perkusi ini bisa lebih mudah diperdengarkan ke anak-anak balita. Kemudahan inilah yang nantinya membuat pertumbuhannya lebih kondusif karena suasana nyaman yang ditimbulkannya. Misalnya, kita bertepuk tangan untuk mengajak anak bermain. Tepuk tangannya berirama yang secara tidak sengaja kita sudah bermain perkusi.

Suara tepuk tangan yang berirama, tidak terlalu keras, enak didengar akan menimbulkan suasana nyaman pada anak. Rasa nyaman ini mendorong anak tertawa, bergoyang, berteriak, dan sebagainya yang membuatnya terlihat begitu senang.

Bila sambil bertepuk kita bernyanyi, hal lain yang didapat, bisa memicu anak untuk memahami kosa kata, merangsang kecerdasan musikal, logika,  serta rasa sosialnya. Dari situ pula kita bisa melatih kepekaannya. Misalnya, sambil bertepuk tangan kita menyanyi dengan menyebutkan nama-nama organ tubuh, nama anggota keluarga, atau nama-nama benda di sekitar kita.

Tak hanya tepuk tangan, ketika anak memainkan mainan yang bergemerincing, yang mengeluarkan suara ketika dipencet, atau yang berdebum ketika dipukul, bisa merangsang pertumbuhannya. Sebab anak-anak senang dengan mainan-mainan seperti ini.

Dari aktivitas ini, akan muncul suasana yang kondusif, anak bisa bergembira dengan musiknya, menjadi riang, nyaman, hatinya tidak kusut, bebas berekspresi, beraktivitas, dan lainnya. Karena suasana inilah akhirnya muncul suasana yang kondusif sehingga masa pertumbuhannya bisa berjalan lebih maksimal.

Selain itu, suasana inipun dapat merangsang proses kerja otak menjadi lebih baik mengingat pada masa ini pertumbuhan otak anak masih dalam proses pertumbuhan yang sangat cepat. Suasana yang kondusif bisa memperlancar neuron membentuk jaringan di antara sel-selnya sehingga dapat membentuk otak yang lebih berkualitas.

 

Baca Juga: Susu itu Enak, Kok Ada Anak Yang Tak Suka?

Halaman:

Tags

Terkini