- Tetap berpikiran terbuka.
Jangan berasumsi guru atau sekolah telah melakukan kesalahan. (Demikian pula, guru tidak boleh berasumsi bahwa masalahnya ada pada orang tua.)
Ketika tingkat stres sedang tinggi, wajar jika kita ingin menyalahkan seseorang, namun hal ini tidak banyak membantu memecahkan masalah. Penting untuk memastikan bahwa segala ketakutan yang berdasarkan kenyataan, seperti bullying, ditangani dan diperbaiki.
- Jangan memaksakan untuk tinggal di rumah.
Beri tahu anak bahwa jika ia benar-benar sakit, ia perlu diperiksa ke dokter, tetap di tempat tidur dan istirahat, mematikan TV, dan seterusnya. Terapkan aturan tentang tidak boleh menonton TV atau video game.
- Mensimulasikan lingkungan belajar.
Jika anak akhirnya tinggal di rumah dan tidak sakit, mintalah dia membaca, belajar, duduk tegak di depan meja, dan sebagainya.
Beberapa saran ini mungkin sulit diikuti oleh orang tua yang bekerja, namun lakukanlah yang terbaik. Pertimbangkan untuk meminta bantuan dari teman, saudara, atau tetangga yang tidak bekerja untuk jangka waktu singkat.
- Buatlah kebijakan atau peraturan.
Misalnya, Anda mungkin membuat peraturan bahwa kecuali anak demam, dia harus bersekolah. Jika dia benar-benar sakit, pihak sekolah dapat mengevaluasi situasinya dan memulangkannya jika perlu.
- Mintalah dukungan.
Pertimbangkan untuk meminta orang lain mengantar anak ke sekolah sampai situasinya teratasi. Karena emosi begitu memuncak pada saat-saat seperti ini, akan sangat membantu jika Anda melepaskan diri dari tugas memaksa anak untuk pergi ke sekolah.
Baca Juga: Waspada! OJK Beri Peringatan Modus Baru Pembobolan Rekening, Uang Lenyap dalam Sekejap
Jika ada kaitannya dengan kecemasan akan perpisahan dengan Moms, misalnya, mintalah Paps mengantar anak ke sekolah. Atau mintalah seorang teman atau anggota keluarga lain untuk bertanggung jawab atas masa transisi ini sampai anak masuk kembali ke sekolah.
Cobalah untuk tetap tenang dan suportif, namun tetap tegas. Ingat, anak perlu bersekolah – di sinilah anak menjadi dewasa, tidak hanya secara intelektual tetapi juga secara sosial dan emosional. Alhasil, tidak terjadi lagi peristiwa anak tak mau sekolah.
Dengan mengikuti saran-saran ini, ada banyak alasan untuk percaya bahwa anak akan mengatasi kecemasan sekolah dan dalam prosesnya, mendapatkan apresiasi baru atas kemampuannya untuk bertahan dan mengatasi situasi sulit.***