SMARTPARENT.ID - “Minus Ayesha sudah -11.00 di usia 14 tahun. Kami sudah mencoba berbagai cara, tapi tidak ada yang berhasil.
Sebagai orang tua, saya takut sekali karena ibu saya dulu menderita glaukoma.
Saya tidak mau hal serupa terjadi pada anak saya,” tutur Sri Utami, ibu dari Ayesha, dengan mata berkaca-kaca.
Ayesha adalah seorang remaja berusia 14 tahun yang sempat kehilangan kepercayaan diri karena kondisi matanya.
Sejak duduk di bangku sekolah menengah, Ayesha harus menggunakan kacamata dengan lensa sangat tebal.
Baca Juga: Food Destination Mal Ciputra Jakarta Hadir Kembali dengan Wajah Baru dan Tenant Kuliner Pilihan
Kondisi ini membuatnya sering menjadi sasaran bully dari teman-temannya. Ia kesulitan bergerak lincah saat beraktivitas, dan sering merasa terbatas saat belajar di kelas.
Setiap hari, Ayesha harus menghadapi rasa tidak nyaman.
Matanya buram jika kacamata terlepas, dan aktivitas sederhana seperti membaca papan tulis menjadi tantangan besar.
“Saya sering merasa minder dan malu. Rasanya berbeda sendiri dibanding teman-teman,” kata Ayesha.
Namun titik terang muncul ketika Ayesha dan ibunya berkenalan dengan VIO Optical Clinic. Setelah menjalani pemeriksaan lengkap, tim dokter VIO merekomendasikan terapi Ortho-K (Orthokeratology).
Baca Juga: Rayakan 30 Tahun Kebahagiaan, Timezone Tebar Keceriaan dari Anak Hingga Lansia
Dengan bimbingan dokter dan konsistensi penggunaan, kondisi minus Ayesha mulai terkendali dan bahkan menurun.
Kini, Ayesha dapat melihat lebih jernih tanpa harus terus bergantung pada kacamata tebal.