- Kekhawatiran Orangtua
Beberapa orangtua mungkin masih khawatir jika anak terlalu banyak di depan layar atau terlalu fokus ke teknologi. Padahal, dengan pengawasan dan pendekatan yang tepat, belajar coding justru bisa memperkaya kemampuan anak.
Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua?
Sebagai orangtua muda, Moms dan Dads bisa banget jadi pendamping anak dalam belajar coding, lho. Nggak perlu paham teknis banget, yang penting supportif!
Tips dari kami:
- Ajak anak eksplor aplikasi coding yang ramah anak, seperti Scratch Jr, Code.org, atau LightBot.
- Luangkan waktu untuk melihat apa yang anak buat, dan beri apresiasi sekecil apa pun hasilnya.
- Batasi screen time tetap sesuai usia, dan imbangi dengan aktivitas fisik.
- Kalau memungkinkan, daftarkan anak ke kelas coding anak secara online atau offline, yang sekarang mulai banyak tersedia.
Baca Juga: Cara Menanamkan Kebiasaan Disiplin Sejak Dini di Sekolah
Negara Lain Sudah Mulai Lebih Dulu
Negara-negara seperti Inggris, Jepang, dan Australia sudah lebih dulu memasukkan coding ke dalam kurikulum nasional SD mereka.
Misalnya di Inggris, coding sudah diajarkan sejak usia 5 tahun, lewat pelajaran yang disebut “computing”. Tujuannya bukan hanya menghasilkan programmer, tapi membekali generasi muda dengan cara berpikir logis dan keterampilan teknologi (UK Department for Education, 2014).
Coding di SD, Perlu atau Tidak?
Jawabannya: perlu diperkenalkan.
Coding bisa menjadi bekal penting bagi anak-anak dalam menghadapi dunia masa depan yang penuh teknologi. Tidak harus diajarkan dengan cara rumit—cukup lewat pendekatan bermain, bercerita, dan eksplorasi. Yang paling penting, orangtua dan guru hadir untuk mendampingi proses belajarnya.
Jadi, yuk, mulai kenalkan coding ke anak sejak dini. Siapa tahu dari bermain kode hari ini, besok anak kita jadi pencipta teknologi masa depan?