news-n-trend

Gelombang Panas Makin Ekstrem: Ancaman Nyata bagi Kesehatan yang Sering Diremehkan  

Kamis, 7 Mei 2026 | 20:49 WIB
Paparan suhu tinggi bisa memicu stres panas, yang merupakan penyebab utama kematian terkait cuaca. (freepik)

 

SMARTPARENT.ID - Panas menjadi salah satu risiko serius dalam kesehatan lingkungan dan dunia kerja. Paparan suhu tinggi bisa memicu stres panas, yang merupakan penyebab utama kematian terkait cuaca. Kondisi ini juga dapat memperburuk berbagai penyakit yang sudah ada sebelumnya, seperti gangguan jantung, diabetes, masalah kesehatan mental, hingga asma.

Selain itu, suhu ekstrem turut meningkatkan risiko kecelakaan serta penularan beberapa penyakit menular. Dalam kondisi paling parah, serangan panas merupakan keadaan darurat medis dengan tingkat kematian yang tinggi.

Seiring perubahan iklim, jumlah orang yang terpapar panas ekstrem terus meningkat secara signifikan di berbagai belahan dunia. Data menunjukkan bahwa angka kematian akibat panas pada kelompok usia di atas 65 tahun naik sekitar 85% antara awal 2000-an hingga periode 2017–2021. Dalam rentang 2000–2019, diperkirakan ada sekitar 489.000 kematian setiap tahun yang berkaitan dengan panas, dengan sebagian besar terjadi di Asia dan Eropa.

Bahkan, pada musim panas 2022 di Eropa saja, tercatat lebih dari 61 ribu kematian berlebih akibat suhu tinggi. Gelombang panas besar di masa lalu juga menunjukkan dampak yang sangat serius, seperti puluhan ribu kematian di Eropa pada 2003 dan di Rusia pada 2010.

Tingkat kerentanan seseorang terhadap panas dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari usia, kondisi kesehatan, hingga jenis pekerjaan dan situasi sosial ekonomi. Meski dampaknya besar, sebenarnya risiko kesehatan akibat panas bisa diprediksi dan sebagian besar dapat dicegah melalui kebijakan yang tepat serta intervensi kesehatan masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia telah mengeluarkan panduan untuk membantu negara dan lembaga kesehatan dalam menghadapi risiko ini. Upaya penanganan perubahan iklim yang dibarengi dengan kesiapan sistem kesehatan yang baik terbukti dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Gelombang panas sendiri merupakan periode ketika suhu tinggi terjadi terus-menerus, baik siang maupun malam, selama beberapa hari. Fenomena ini kini semakin sering terjadi, dengan durasi lebih lama dan intensitas yang makin kuat akibat perubahan iklim. Bahkan gelombang panas dengan tingkat ringan hingga sedang pun bisa berdampak pada kelompok rentan.

Paparan panas yang berlangsung lama, terutama tanpa jeda pendinginan di malam hari, memberi tekanan besar pada tubuh. Hal ini meningkatkan risiko penyakit hingga kematian. Dalam waktu singkat, gelombang panas dapat memicu lonjakan kasus kesehatan dan bahkan menjadi darurat kesehatan masyarakat. Dampaknya juga meluas ke sektor sosial dan ekonomi, seperti menurunnya produktivitas kerja dan terganggunya layanan publik, termasuk fasilitas kesehatan, transportasi, dan pasokan air, terutama jika terjadi pemadaman listrik.

Kondisi ini semakin kompleks dengan bertambahnya jumlah lansia dan meningkatnya penyakit tidak menular seperti gangguan jantung, pernapasan, diabetes, hingga penyakit ginjal. Di sisi lain, banyak kota belum dirancang untuk mengurangi panas, minim ruang hijau, dan penggunaan material bangunan yang justru menyerap panas, sehingga memperparah kondisi.

Sayangnya, kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan tentang bahaya panas masih tergolong rendah. Padahal, tenaga medis perlu menyesuaikan strategi dan layanan untuk menghadapi lonjakan pasien saat gelombang panas. Kabar baiknya, banyak langkah sederhana dan relatif murah yang bisa dilakukan di berbagai tingkat, dari individu hingga pemerintah, untuk mengurangi risiko ini.

Kelompok yang paling terdampak cukup beragam. Di wilayah tropis dan subtropis, paparan panas terjadi hampir sepanjang tahun, sementara di daerah lain bersifat musiman. Pekerja lapangan, buruh, atlet, hingga petugas darurat termasuk yang paling berisiko karena aktivitas fisik di bawah terik matahari.

Masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah juga rentan karena keterbatasan akses terhadap hunian yang layak dan pendingin ruangan. Faktor gender juga bisa berperan, misalnya pada perempuan yang lebih sering terpapar panas saat memasak di dalam rumah.

Secara fisiologis, tubuh manusia bisa mengalami kelebihan panas ketika tidak mampu melepaskan panas dari dalam tubuh akibat suhu lingkungan yang tinggi, kelembapan tinggi, sirkulasi udara buruk, atau paparan radiasi panas. Pakaian yang tidak mendukung pelepasan panas serta suhu lingkungan yang ekstrem juga memperburuk kondisi.

Halaman:

Tags

Terkini