Dya Loretta sendiri memahami pentingnya ruang yang setara dari pengalaman pribadinya. Ia merupakan penyandang disleksia dan telah melalui perjalanan panjang dalam menghadapi tantangan belajar sejak kecil.
“Saya lahir dengan disleksia dan memahami bagaimana rasanya menghadapi tantangan dalam proses belajar dan beradaptasi. Dari pengalaman itu, saya percaya bahwa ketika diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat, teman-teman difabel mampu menunjukkan potensi terbaiknya,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan komitmennya untuk terus membuka ruang-ruang yang inklusif. Menurutnya, kesetaraan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan melalui aksi nyata yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan rutin seperti ini, DNIKS berharap semakin banyak pihak, termasuk pengelola ruang publik dan pelaku industri kreatif, yang tergerak untuk menghadirkan fasilitas yang ramah difabel. Kesadaran kolektif menjadi kunci agar inklusivitas tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi praktik sehari-hari.
Ke depan, DNIKS bersama Srikandi Berdaya dan CITAS akan terus menghadirkan program yang mendorong peningkatan kapasitas, penguatan jejaring, serta perluasan akses bagi teman-teman difabel di berbagai bidang. Nonton bareng menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun rasa percaya diri, kebersamaan, dan partisipasi aktif dalam kehidupan sosial.
Melalui film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua, pesan tentang keberanian, persahabatan, dan semangat tanpa batas kembali ditegaskan. Di dalam satu studio yang dipenuhi keberagaman, para peserta tidak hanya menyaksikan kisah di layar lebar, tetapi juga merasakan secara langsung makna kebersamaan dan kesetaraan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masyarakat yang inklusif dibangun dari kesediaan untuk membuka ruang dan memberi kesempatan. Ketika teman-teman difabel dapat duduk bersama, tertawa bersama, dan menikmati cerita yang sama, di situlah kesetaraan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.***