SMARTPARENT.ID - Belakangan ini, suplemen silika makin sering dibicarakan dalam dunia perawatan kulit, terutama buat yang punya kulit sensitif. Topik ini terasa makin relevan karena makin banyak orang mencari cara merawat kulit dari dalam, bukan cuma mengandalkan skincare dari luar.
Menariknya, silika disebut-sebut punya cara kerja yang mirip dengan kolagen. Tapi apakah benar bisa jadi “kolagen baru”? Untuk menjawab itu, sejumlah ahli seperti dermatolog Papri Sarkar, MD, dokter naturopati Isabel Sharkar, ND, dan ahli bedah plastik wajah Michael Somenek ikut memberikan pandangannya.
Kalau ditarik ke dasar banget, silika sebenarnya bukan hal baru. Dari pelajaran kimia dulu, kita mungkin pernah dengar silikon yang ada di tabel periodik, posisinya di antara aluminium dan fosfor. Saat silikon bergabung dengan oksigen, terbentuklah silika atau silikon dioksida. Bentuknya bisa berupa kristal kuarsa, bahkan juga yang sering kita lihat dalam bentuk kantong kecil penyerap kelembapan di dalam kotak sepatu.
Di dalam tubuh manusia, silika ternyata punya peran yang cukup penting. “Silika adalah unsur jejak ketiga yang paling melimpah dalam tubuh manusia setelah besi dan seng,” jelas Sharkar. Meski namanya tidak sepopuler dua mineral itu, perannya tidak kalah besar. Ia menambahkan, “Silika memiliki dampak yang luar biasa pada regenerasi kulit—silika sangat terkait dengan kulit yang sehat dan awet muda.”
Salah satu alasan kenapa silika jadi menarik adalah karena kemampuannya membantu kulit menjaga kelembapan. “Silika juga menciptakan ikatan antara molekul protein, yang bertanggung jawab atas kemampuan alami kulit untuk menahan air, yang sangat penting untuk perbaikan dan pembaruan sel,” lanjut Sharkar.
Kalau dibahas lebih dalam, manfaat silika ternyata cukup luas. Mineral ini membantu memperkuat jaringan ikat dalam tubuh. “Silika diperlukan untuk membangun kembali kolagen; silika berada di dalam kolagen, bertindak sebagai perekat, memberikan kekuatan, fleksibilitas, dan ketahanan pada jaringan ikat,” kata Sharkar. Karena perannya seperti lem alami, efeknya tidak cuma terasa di kulit, tapi juga pada rambut, kuku, dan gigi yang jadi lebih kuat dan sehat.
Silika juga punya sifat anti-inflamasi alami. Artinya, bisa membantu meredakan masalah kulit seperti eksim dan psoriasis. Selain itu, silika membantu menjaga keseimbangan mineral lain dalam tubuh seperti kalsium dan magnesium, yang berpengaruh pada keseimbangan hormon. Bahkan Sharkar menyebutnya dengan cukup ekstrem, “Ini adalah lem yang menyatukan kita; tanpa silika, kita benar-benar akan hancur berantakan.”
Menariknya lagi, produksi silika dalam tubuh ikut menurun seiring usia, mirip dengan kolagen yang mulai berkurang sejak usia sekitar 25 tahun. Karena itu, silika mulai dilirik sebagai suplemen pencegahan penuaan. “Siapa pun yang berusia akhir 20-an hingga awal 30-an harus mulai mengonsumsi silika,” kata Sharkar. “Anda dapat menggunakannya saat melihat garis-garis halus atau, lebih baik lagi, sebagai tindakan pencegahan.”
Soal hasilnya, memang tidak instan. Butuh waktu sekitar 12 minggu untuk mulai terlihat. Tapi perubahan yang dilaporkan cukup terasa, mulai dari kulit yang lebih cerah, lebih kencang, elastisitas meningkat, sampai hidrasi yang lebih baik. Pori-pori bisa tampak lebih kecil, noda berkurang, dan garis halus jadi lebih samar.
Silika juga membantu proses oksigenasi kulit. “Silika memberi Anda kilau karena merupakan pembawa oksigen yang kuat, dan meningkatkan pengangkutan nutrisi dan oksigen ke kulit,” jelas Sharkar. Ia bahkan menambahkan, “Ini membantu sel darah merah membawa 20 persen lebih banyak oksigen—dan karena itu, kulit tetap lebih terhidrasi juga. Perhatikan kulit Anda mulai bercahaya dan jerawat, eksim, atau psoriasis Anda mulai menghilang. Ini akan menjadi tanda pasti bahwa produk ini bekerja.”
Dari sisi anti-aging, peran silika juga cukup jelas. “Suplemen silika menghilangkan tanda-tanda penuaan yang terlihat dengan meningkatkan produksi kolagen alami,” kata Somenek. Ia menambahkan, “Kolagen membalikkan tanda-tanda penuaan dengan meningkatkan elastisitas kulit.”
Meski terlihat menjanjikan, suplemen silika tetap perlu digunakan dengan hati-hati. Biasanya, silika berasal dari bambu atau tanaman ekor kuda. Namun, tidak semua orang cocok dengan jenis tertentu. “Ekor kuda mungkin tidak cocok untuk semua orang, dan mungkin memiliki kontraindikasi pada penderita diabetes dan kehamilan,” ujar Sharkar.
Ia juga mengingatkan, “Silikon dioksida, di sisi lain, umumnya aman. Jika ragu, saya sarankan untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan holistik Anda sebelum memulai program suplemen apa pun. Silika dikontraindikasikan pada orang dengan penyakit ginjal atau jantung atau retensi cairan.”
Kalau tidak ingin mengonsumsi suplemen, sebenarnya silika juga bisa didapat dari makanan. Sayuran hijau gelap, daun bawang, buncis, mentimun, seledri, dan asparagus bisa jadi sumber alami yang cukup baik.