SMARTPARENT.ID Umumnya, setelah memutuskan bercerai maka pasangan juga memutuskan untuk pisah rumah. Hal ini untuk menghindari perselisihan lebih lanjut yang mungkin saja terjadi mengingat perceraian merupakan ujung masalah yang tidak terselesaikan. Namun, tak dipungkiri kalau ada pasangan yang memilih untuk tetap serumah meskipun sudah bercerai.
Baca Juga: Begini Cara Merespon Bila Orangtua/Mertua Menghandel Pekerjaan Rumah Kita
Dapat Memicu Perselisihan Lebih Besar
Tetap satu rumah, meski sudah bercerai, dari sisi hubungan antarpasangan dan sudut psikologis tidak ada manfaatnya. Malah bisa saja terjadi masalah yang lebih besar. Suasana/situasi menjadi”dingin,” bertegur sapa hanya basa-basi, atau bahkan saling menyimpan ”api” di hati masing-masing.
Akan lebih parah bila perceraian yang terjadi diakibatkan oleh ketidakcocokan, percekcokan, perselisihan, yang bila bertemu muka akan membuat mereka seperti anjing dan kucing. Dengan serumah tentu akan memunculkan perang mulut, adu argumentasi, dan tidak mustahil akan terjadi kekerasan fisik.
Bila demikian yang terjadi tentu hal ini tidak sehat untuk perkembangan anak. Anak tidak bisa belajar bagaimana mengembangkan komunikasi yang hangat dan penuh cinta. Bahkan mungkin saja situasi yang tidak kondusif ini akan mendorong anak untuk tumbuh ke arah yang negatif, ikut berkata dan bertindak kasar, tidak memiliki empati, tidak percaya diri, dan sebagainya.
Kondisi tetap serumah pun, akan menghalangi perkembangan kehidupan pribadi mereka berdua. Mungkin saja setelah bercerai ada keinginan untuk mencari pasangan baru, mengenalkan pasangan baru ke anak, atau memang sudah memulai membina hubungan yang baru. Dengan tetap serumah akan membuat keinginan-keinginan ini menjadi tidak semulus bila sudah pisah rumah.
Baca Juga: Istri Jauh Lebih Tua? Ini 5 Masalah yang Kerap Muncul
Boleh Satu Rumah, Tetapi Untuk Sementara
Bila memang memutuskan untuk tetap serumah, sebaiknya dilakukan untuk sementara waktu saja. Bisa hanya beberapa hari atau beberapa minggu sesuai dengan kesepakatan bersama. Hal ini lebih ditujukan untuk memberikan kesempatan pada anak untuk lebih mudah menjalani masa transisi dari proses perceraian tersebut. Asal, kita tidak menunjukkan konfrontasi di depan anak.
Mempersiapkan mental anak untuk menghadapi perubahan, sangat penting dilakukan. Berikanlah penjelasan sederhana ke anak tentang apa yang terjadi. Misalnya dengan menjelaskan kalau mama dan papa sudah bercerai dan beberapa hari lagi tidak akan tinggal serumah. Jelaskan pula alasan-alasan kenapa harus bercerai, “Mama dan papa sudah tidak akur, sering berselisih, jadi lebih baik pisah,” misalnya.
Bila hak pengasuhan anak dimiliki ibu, beritahukan pula kalau nanti si anak tidak serumah pula dengan ayah. Mungkin agak sulit menerangkan hal yang rumit ini kepada anak, jadi gunakan bahasa-bahasa yang sangat sederhana. Bila memang tidak mampu melakukannya sendiri dan khawatir anak akan berpresepsi negatif, tak masalah bila kita meminta bantuan ahli, seperti psikolog, untuk menjelaskannya.
Dengan menjalani masa transisi ini anak bisa terbantu untuk mempersiapkan sisi emosionalnya dan membantunya untuk tetap merasa aman bahwa ia masih bisa bertemu dengan kedua orangtuanya.
Baca Juga: Begini Cara Merespon Bila Orangtua/Mertua Menghandel Pekerjaan Rumah Kita