SMARTPARENT.ID - Olahraga itu jelas baik dan dianjurkan, tapi tetap ada batasnya. Kalau berlebihan, risikonya justru bisa kena saraf terjepit. Bahkan atlet kelas dunia seperti Viktor Axelsen pun pernah harus mengakhiri karier karena masalah ini.
Nyeri punggung bawah sekarang sudah seperti “penyakit zaman modern”. Di Amerika Serikat, kondisi ini bahkan jadi salah satu penyebab utama kecacatan pada orang dewasa. Secara umum, gangguan pada tulang belakang bagian bawah terbagi jadi dua kelompok besar: nyeri lokal di punggung bawah, dan gejala yang menjalar ke kaki akibat gangguan saraf. Yang terakhir ini kadang sampai menyebabkan rasa nyeri saat berjalan (klaudikasi neurogenik).
Kalau dilihat dari penyebabnya, nyeri punggung bawah sering berkaitan dengan masalah pada bantalan tulang belakang (diskus). Beberapa kondisi yang umum antara lain hernia diskus, gangguan internal diskus, dan penyakit diskus degeneratif. Pada kasus hernia diskus, bagian luar diskus yang seharusnya kuat justru gagal menahan bagian dalamnya, sehingga isi diskus menonjol keluar dan menimbulkan gejala.
Gejala dari kondisi ini bukan cuma karena tekanan mekanis, tapi juga karena reaksi peradangan. Saat diskus cedera, tubuh memicu respons inflamasi yang melibatkan berbagai zat kimia, sehingga saraf di sekitar area tersebut ikut teriritasi. Tubuh juga mencoba “membersihkan” area tersebut, tapi malah bisa membentuk jaringan parut yang ikut berkontribusi pada rasa nyeri.
Selain peradangan, tekanan langsung pada saraf juga memicu gangguan fungsi. Akibatnya, bisa muncul kelemahan otot, mati rasa, atau sensasi kesemutan di area tertentu. Pada kondisi yang berat, bahkan bisa terjadi gangguan kontrol buang air kecil atau besar, yang dikenal sebagai sindrom cauda equina.
Menariknya, tingkat keparahan gejala tidak selalu sejalan dengan ukuran hernia. Artinya, tonjolan kecil pun bisa terasa sangat sakit jika peradangannya besar, sementara tonjolan besar belum tentu menimbulkan gejala berat.
Beberapa faktor risiko yang sering dianggap sepele ternyata punya peran besar. Merokok termasuk salah satu yang utama. Selain itu, kebiasaan seperti duduk lama tanpa penopang punggung, sering mengemudi, atau aktivitas dengan getaran terus-menerus juga bisa meningkatkan tekanan pada diskus. Pada pengemudi, risiko makin tinggi jika ditambah aktivitas angkat beban setelah duduk lama.
Penelitian menunjukkan bahwa diskus yang sudah rusak lebih mudah mengalami tekanan berlebih dibandingkan diskus normal. Menariknya, aktivitas normal berulang tidak selalu menyebabkan hernia, kecuali jika sebelumnya sudah ada kerusakan atau titik lemah pada struktur diskus.
Dulu, hernia diskus sering dianggap akibat trauma besar. Tapi sekarang, pandangan itu mulai bergeser. Banyak kasus justru terjadi karena kondisi diskus yang sudah melemah sebelumnya, ditambah tekanan ringan atau aktivitas sehari-hari.
Untuk penanganan, istirahat total ternyata tidak selalu jadi solusi. Istirahat hanya disarankan dalam waktu sangat singkat, sekitar 1–2 hari. Setelah itu, terlalu lama diam justru bisa memperburuk kondisi. Pendekatan konservatif biasanya fokus pada mengurangi peradangan, misalnya dengan obat antiinflamasi, kompres hangat, atau terapi tertentu.
Terapi fisik jangka panjang juga tidak selalu efektif jika hanya mengandalkan alat atau prosedur pasif. Yang lebih penting adalah melatih otot untuk menopang tulang belakang dan menjaga fleksibilitas tubuh lewat latihan rutin jangka panjang.
Kalau kondisi tidak membaik, tindakan operasi bisa jadi pilihan. Tujuan utamanya adalah mengurangi tekanan pada saraf agar nyeri menjalar ke kaki bisa hilang. Prosedur yang paling umum saat ini adalah mikrodiskektomi, yang relatif minim invasif dan pemulihannya cepat.
Namun perlu realistis: operasi bukan jaminan nyeri punggung hilang selamanya. Pada banyak kasus, tujuan utamanya adalah mengurangi nyeri saraf, bukan menghilangkan semua keluhan.
Intinya, masalah saraf terjepit itu jarang terjadi tiba-tiba. Biasanya hasil dari kombinasi faktor: kondisi diskus yang sudah melemah, kebiasaan sehari-hari, dan tekanan berulang. Jadi, selain tetap aktif bergerak, penting juga menjaga pola aktivitas supaya tidak berlebihan dan tetap seimbang.