lifestyle

Menerapkan Stoikisme dalam Berkeluarga, Mungkinkah?

Rabu, 11 Desember 2024 | 22:17 WIB
Stoikisme dalam berkeluarga (Freepik)

SMARTPARENT.ID - Stoikisme adalah sebuah filosofi hidup yang berasal dari Yunani Kuno, yang mengajarkan cara untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian batin dengan menerima kenyataan, mengendalikan emosi, dan berfokus pada apa yang dapat kita kendalikan.

Dalam kehidupan keluarga, di mana dinamika hubungan, tantangan, dan emosi sering kali saling tumpang tindih, apakah ajaran stoikisme bisa diterapkan untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis?

Apa Itu Stoikisme?

Stoikisme adalah filosofi yang berkembang pada abad ke-3 SM, dengan pendiri utama seperti Zeno dari Citium, Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius.

Baca Juga: Pengaruh NPD (Narcissistic Personality Disorder) pada Cara Parenting

Filosofi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari pengendalian diri, menerima hal-hal yang tidak dapat kita ubah, dan berfokus pada kebajikan (seperti kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri).

Stoikisme tidak menekankan pencapaian kebahagiaan lewat kekayaan, kesenangan, atau status sosial, melainkan melalui penerimaan terhadap kondisi hidup yang ada dan pengelolaan respons kita terhadap keadaan tersebut.

Pada intinya, stoikisme mengajarkan untuk membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan yang tidak.

Baca Juga: CPAP pada Bayi dan Penggunaannya dalam Perawatan Kesehatan Neonatal

Dalam konteks kehidupan keluarga, hal ini berarti kita belajar untuk mengendalikan reaksi kita terhadap perilaku anggota keluarga, sementara menerima bahwa kita tidak dapat mengendalikan segala aspek dalam hubungan keluarga.

Prinsip Stoikisme yang Dapat Diterapkan dalam Keluarga

1. Menerima yang Tidak Dapat Dikendalikan

Salah satu ajaran utama dalam stoikisme adalah menerima hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Dalam kehidupan keluarga, ada banyak situasi yang tidak bisa kita ubah, seperti perilaku pasangan, temperamen anak, atau kondisi eksternal yang memengaruhi kehidupan keluarga (misalnya, masalah finansial, kesehatan, atau pekerjaan).

Baca Juga: Kapan Detak Jantung Janin Mulai Terdengar?

Alih-alih merasa frustrasi atau marah atas hal-hal tersebut, stoikisme mengajarkan kita untuk menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada.

Contoh Penerapan:

Jika pasangan kita sedang stres atau anak kita bertingkah laku buruk, kita mungkin tidak dapat mengubah perasaan atau perilaku mereka secara langsung.

Namun, kita bisa mengendalikan bagaimana kita meresponsnya—dengan sabar, empati, dan tanpa terbawa emosi.

Baca Juga: Sebesar Apa Janin 6 Minggu dan Bagaimana Perkembangannya?

Halaman:

Terkini