SMARTPARENT.ID Mungkin, kita merasa tidak enak ketika mertua/orangtua yang sedang menginap di rumah kita menghandel semua pekerjaan. Mulai dari memasak, menyapu, mengepel, mencuci, bahkan menyetrika pakaian. Bagaimana tidak, di usia yang sudah tua masih saja mau menolong.
Baca Juga: Ih My Husband Rajin Sekali!
Seharusnya, selama orangtua/mertua melakukan dengan kehendak sendiri, kita tak perlu merasa tidak enak. Siapa tahu, mereka senang melakukannya dan merasa puas karena sudah bisa memberi perhatian meski kita sudah menikah. Cobalah lakukan tindakan yang semakin membuat hatinya senang.
Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan.
- Selalu Beri Apresiasi
Saat melihat mereka melakukan pekerjaan di rumah, berilah apresiasi positif. Apresiasi bisa dengan tersenyum senang, ekspresi bahagia, atau dengan kata-kata seperti “wah, mamaku masih seperti dulu, selalu bersih-bersih, hebat!” misalnya. Apresiasi ini dapat membuat mereka merasa dihargai, diakui, dibolehkan, sehingga ia tak akan canggung melakukannya lagi.
- Hindari Negatif, Berpikirlah Positif
Mungkin, ketika melihat orangtua/mertua melakukan banyak pekerjaan di rumah, terlintas di benak kita jika mereka suka mengatur-ngatur urusan rumah tangga kita. Kesampingkan pikiran negatif ini, ubahlah menjadi positif. Sebab, apa yang dilakukan orangtua/mertua mungkin karena ia tidak terbiasa diam, ingin menyenangkan atau membantu anak dan menantunya, tak biasa melihat sesuatu yang berantakan, ingin banyak bergerak (olahraga) dan lainnya. Jika memang niat mereka demikian kenapa mesti dilarang dan merasa tidak enak hati.
- Cobalah Menawarkan Diri
Tentu, jangan terlalu membiarkan orangtua/mertua melakukan seluruh pekerjaan. Mungkin ia melakukan itu semua karena ada perasaan tidak enak jika hanya diam saja di rumah. Tawarkan diri kita untuk mengambil alih pekerjaan yang sedang orangtua/mertua lakukan. “Biar saya yang menyetrika, mama istirahat saja!” Atau “Ma, kan ada si embak, kenapa mama yang mencuci piring!” misalnya. Dari jawaban orangtua/mertua akan terlihat apakah ia melakukannya karena ketulusan hati atau ketidakenakan. Ambil alih pekerjaan jika mereka melakukannya karena ketidakenakan.
Baca Juga: Jangan Biarkan Anak Terlena dengan Fasilitas
Jangan Melarang Tapi Beri Alasan yang Tepat
Kita tak perlu langsung melarang orangtua/mertua melakukan pekerjaan di rumah. Tetapi harus menilik lebih dalam apakah ia melakukannya dengan ketulusan yang dalam atau tidak. Jika ia tulus sebaiknya biarkan selama pekerjaan tersebut tidak membahayakan kesehatannya. Misalnya, mereka memaksa mencuci baju padahal mengidap penyakit jantung. Tentu harus dilarang.
Kalaupun ingin melarang karena ada si mbak yang sudah menghandel maka komunikasikan dengan bahasa yang indah. “Mama, aku senang sekali mama membantu. Tapi kalau semua dikerjakan mama nanti mbaknya makan gaji buta dong!” misalnya kita ucapkan sambil bercanda. Komunikasi yang indah akan membuat orangtua/mertua tidak tersinggung mengingat semakin tua usia seseorang makan sensitivitasnya pun meningkat. Kalau kita melarang secara tiba-tiba, orangtua/mertua bisa saja tersinggung.
Seandainya orangtua/mertua bersikukuh melakukan pekerjaan sebaiknya kita atur, mana yang boleh ia lakukan dan mana yang tidak. Misalnya, ia hanya boleh mengerjakan urusan dapur saja karena kita tahu ia pandai sekali memasak. Sementara mencuci pakaian, menyetrika, membersihkan halaman, dilakukan oleh kita atau pembantu. Jelaskan kenapa kita perlu melakukan pengaturan, supaya mama tidak terlalu letih misalnya.
Sebaliknya, kita pun tidak boleh memaksa orangtua/mertua kita melakukan pekerjaan di rumah. Pemaksaan, apalagi menjadikan mereka layaknya pembantu rumah tangga sungguh tidak bijak. Jika mereka tak mau melakukan apapun tak masalah. Mungkin saat ini sudah saatnya berisitirahat setelah sekian tahun membantu kita. Main asal perintah kepada orangtua/mertua pun bisa memicu terjadinya perselisihan.
Baca Juga: Memberikan Fasilitas ke Anak? Boleh saja Tetapi Harus Bijak